Jejak soeharto


Jejak Soeharto : Petualangan
Politik Seorang Jenderal
Godean

September, tahun 1945. Para pemuda
Indonesia sibuk melucuti
persenjataan Jepang. Ibu Umiyah
Dayino, 75 tahun, masih ingat
sebuah pemandangan. Soeharto, eks
tentara Peta, sering datang ke
bilangan Pathook di Yogya. Sebuah
kawasan yang kini terkenal sebagai
pusat oleh-oleh bakpia ini, sekitar 50
tahun silam, menjadi sarang
berkumpul pemuda-pemuda bawah
tanah yang disebut Kelompok
Pathook. Para pemuda itu berkumpul,
berdiskusi, berbagi informasi, merakit
senjata, menjalin hubungan dengan
tokoh-tokoh partai. Penggerak-
penggerak utama “geng” ini adalah
Dayino, Koesomo Soendjojo, dan
Denyoto. Semuanya kini sudah
almarhum. Umiyah, yang tinggal di
Ngabean, Yogya, adalah janda dari
Dayino. “Dulu, rumah ini memang
menjadi rumah kedua markas
pemuda Pathook. Markas utama ada
di rumah Koesomo Soendjojo, di
Kampung Pathook,” katanya kepada
TEMPO suatu sore.
Di situlah Soeharto sering
mendengar orang berdiskusi.
Memang tak sampai setiap hari, tapi
ia bisa saja mampir dua kali
seminggu. Ia tiba setiap pukul
delapan malam dan dan bertahan
sampai pukul tiga pagi. Itu semua
dilakukan untuk “belajar politik”
kepada Dayitno dan Soendjojo, yang
dekat dengan para politisi sosialis.
Adalah Marsoedi, seorang eks tentara
Peta, yang memperkenalkan Soeharto
kepada kelompok Pathook. “Pemuda
Pathook itu seperti pemuda Menteng
31 Jakarta. Semua berkumpul di situ,
apakah itu PKI atau yang lain,” tutur
Marsoedi, mengenang. Ibrahim, 76
tahun, mantan anggota Pathook,
masih ingat betul bahwa yang sering
meladeni makanan atau minuman
untuk Soeharto adalah seorang
bernama Munir. Ia adalah Ketua
Serikat Buruh. “Munir kemudian
dijatuh hukuman mati oleh Soeharto,
padahal mereka pernah sama-sama
di Pathook,” kata Ibrahim. Jika
wartawan menyempatkan diri
melacak masa lalu Soeharto di
Yogyakarta dan menemukan kembali
aktivis-aktivis Kelompok Pathook
dulu itu ada alasannya.
Sebuah buku berjudul Suharto: A
Political Biography karya R.E. Elson,
yang baru saja meluncur dalam
jumlah terbatas dan berharga jual Rp
400 ribu, menyinggung tentang
Kelompok Pathook ini. Boleh disebut
di situlah proses pembentukan
pemikiran pertama Soeharto. Atau,
bisa dikatakan bahwa Pathook adalah
sebuah potret kecil bagaimana cara
dan gaya Soeharto berkawan. Di
Pathook, ia tidak larut dalam
pergaulan. Ia mengambil jarak. “Ia
bukan anggota,” tutur Ibrahim.
Soeharto lebih banyak diam, tapi
agaknya ia secara saksama
mengamati kecenderungan karakter
dan sikap orang, sehingga ketika tiba
suatu “masa” ia dihadapkan pada
sikap memilih mana kawan, mana
lawan, ia telah siap. Ia bahkan tega
mengorbankan sahabatnya sendiri.
Munir, yang punya nama lengkap
Mohammad Munir, dieksekusi pada
Mei tahun 1985.
Marsudi, orang yang membukakan
cakrawala politik Soeharto, yang
kemudian menjadi perwira intel
Soeharto, juga dijebloskan ke penjara
selama lima tahun di zaman Orde
Baru. Tudingannya? Anggota Partai
Komunis Indonesia. Buku ini adalah
sebuah hasil penelitian yang disusun
secara komprehensif dan hati-hati.
Ada beberapa hal yang tetap menjadi
pertanyaan: misalnya, sosok
misterius Syam Kamaruzaman, yang
sesungguhnya adalah anggota
Kelompok Pathook.
Banyak spekulasi mengatakan, kelak
kemudian hari ia menjadi agen ganda
dan merupakan kunci utama
Peristiwa G30S. Sayang, Elson tidak
memberi ruang untuk mengeksplorasi
misteri Syam. Ada hal lain yang
menarik yang sekilas disentuh Elson,
yakni soal penyelundupan Soeharto
akhir tahun 1940-an. Ibu Umiyah,
misalnya, mendengar sebuah versi
cerita bahwa, ketika Soeharto
memimpin Brigade X (Wehtkreise III)
di Yogyakarta, ia sudah terlibat
penyelundupan. Menggunakan
bahan-bahan dari WTIR (Wekelijks
Territoriaal Inlichtingen Rapport) dan
NEFIS (Netherland Forces
Intelligence Service), Elson
membenarkan dugaan itu.
Sayangnya, pemaparannya hanya
sekilas. Elson juga menuturkan
periode kepanglimaan Soeharto di
Semarang tahun 1950-1959 secara
selintas. Pada Juli 1957, saat
menjadi Panglima Jawa Tengah di
Semarang, Soeharto mendirikan YPTE
(Yayasan Pembangunan Teritorium
Empat).
Mereka mendapatkan modal awal
sebesar Rp 419,352 dari pajak kopra
dan sumbangan Persatuan Pabrik
Rokok Kudus. Tahun itu juga,
Soejono Hoemardani, staf Soeharto,
bekerja sama dengan YPTE
mendirikan NV Garam di Salatiga,
yang bergerak di bidang transportasi.
YPTE mendapatkan sepuluh persen
dari keuntungan. Masih pada tahun
yang sama, Soejono membeli
separuh saham PT Dwi Bakti.
Separuh saham lainnya diambil oleh
anak angkat Gatot Subroto, yaitu
Mohammad Bob Hassan, dan
pengusaha Sukaca. Pada akhir tahun
1957, luar biasa, modal YPTE
langsung mencapai Rp 18 juta. Pada
Agustus 1958, YPTE mendirikan NV
Pusat Pembelian Hasil Bumi,
perusahaan jual-beli produksi
pertanian.
Pada tahun 1959, kekayaan YPTE
melonjak menjadi Rp 35 jutaan,
sehingga YPTE bisa meminjamkan
uang sebesar Rp 1 juta rupiah untuk
mengembangkan industri kecil di
Jawa Tengah. Agustus 1959, YPTE
melangkah lebih jauh lagi:
menanamkan investasi sebesar Rp
15 juta untuk membeli Pabrik Gula
Pakis. Untuk mengatasi kekurangan
stok pangan di Jawa Tengah,
Soeharto membuat kebijakan
mengadakan barter gula dengan
beras dari Thailand dan Singapura.
Maka, diutuslah agen-agen YPTE
bernama Bob Hasan dan Soejono
Hoemardani untuk membuat
koordinasi tukar-menukar ilegal
antara Jawa Tengah dan Singapura.
Soal barter inilah yang membawa
Soeharto ke hadapan tim pemeriksa
Angkatan Darat dengan tuduhan
korupsi. Pada April 1957 di Jakarta,
diresahkan oleh kabar merebaknya
korupsi di lingkungan tentara, A.H.
Nasution meng-instruksikan
membuat tim investigasi korupsi.
Pada 18 Juli 1959, sebuah tim
inspeksi dari Jakarta dipimpin
Brigadir Jenderal Sungkono tiba di
Semarang. Aspek-aspek finansial
YPTE diperiksa oleh tim yang
diketuai Letnan Kolonel Sumantri.
Pada 13 Oktober 1958, Soengkono
mengeluarkan pernyataan pers di
Semarang tentang kegiatan YPTE.
Keuntungan yayasan ini digunakan
untuk membeli pompa air, traktor,
pupuk para petani di Jawa Tengah,
dan untuk membantu para pensiunan
ABRI dan kebutuhan sehari-hari
keluarga serdadu, misalnya
membantu bila ada kematian atau
pernikahan atau membeli kebutuhan
sehari-hari. Akhirnya, tim tersebut
menyatakan bahwa kasus barter
ilegal Soeharto “dapat dimaafkan”
lantaran itu dilakukan untuk
kesejahteraan petani dan prajurit.
Posisi Elson sendiri tampak
sependapat dengan “keputusan
resmi”. Ia menyangsikan bahwa
segala uang itu masuk ke kantong
pribadi Soeharto, lantaran dari
risetnya ia mendapat fakta bahwa
kehidupan Soeharto di Semarang
sederhana . “As far as I am aware,
Suharto himself was not directly
involved in such maters, and there is
no evidence that connects him
directly to a share in the profits of
these business, ” (Sepanjang yang
saya ketahui, Soeharto tidak terlibat
secara langsung dalam kasus itu,
dan tak ada fakta yang mendukung
bahwa dia mendapatkan bagian
keuntungan dari bisnis ini-Red.),
demikian ditulis Elson. Elson juga
menampik anggapan umum bahwa
hubungan bisnis di bawah tangan
antara Soeharto dan Liem Sioe Liong
terjalin di Semarang karena-menurut
Elson-pada saat itu fokus bisnis
Liem berganti.
Oktober 1956, Liem mendirikan NV
Bank Asia, yang kelak akan menjadi
Bank Central Asia (BCA). Tahun
1957, Liem telah meninggalkan
Kudus dan pindah ke Jakarta.
Hubungan erat Soeharto dan Liem-
menurut Elson-baru ketika di Jakarta,
di awal Orde Baru. Yang menjadi
soal, dengan kesimpulan seperti itu
adakah Elson telah mewawancarai
beberapa saksi hidup saat itu?
Wartawan TEMPO menemui Mayor
Jenderal (Purnawirawan) Moehono,
yang pada waktu itu menjabat
sebagai Jaksa Agung Muda yang
diutus Nasution untuk mendampingi
tim kecil Ibrahim untuk memeriksa
Soeharto.
“Jauh sebelum membentuk Yayasan
Teritorial Empat, Soeharto sudah
melakukan korupsi, yaitu penjualan
mobil-mobil tua, sejumlah mobil
yang usianya belum mencapai lima
tahun ikut dilegonya,” tutur Muhono.
Dalam daftar pustaka, misalnya,
Elson menggunakan referensi buku
Letnan Jenderal Purnawirawan
Mochammad Jassin, mantan
Panglima Komando Daerah Militer
Brawijaya 1967-1970: Saya Tidak
Pernah Minta Ampun pada Soeharto.
Entah apakah Elson mewawancarai
langsung Jassin atau tidak. Sebab,
dalam wawancaranya dengan media
pada tahun 1998, Jassin
mengatakan: “Tiga tahun yang lalu
saya tanya ke Pak Nas sewaktu dia
mengawinkan cucunya, ‘Pak Nas,
katanya Soeharto itu pernah jadi
penyelundup.’ Dia bilang, ‘Iya bukan
hanya teh, ada cengkih, besi tua,
tekstil. Menurut Jassin, sebenarnya
Soeharto sudah mau dipecat olek
Pak Nas tapi diselamatkan oleh Gatot
Soebroto.’
Menurut Muhono, yang pertama kali
melaporkan penyelundupan ini adalah
Pranoto Reksosamudra. Itulah
sebabnya Soeharto sangat dongkol
kepada Pranoto, yang dikenalnya di
Pathook itu. Ketika di Semarang,
ternyata Pranoto menjadi rival politik
Soeharto. Pranoto inilah yang oleh
Bung Karno ditunjuk sebagai
caretaker keamanan pasca-G30S.
Tapi, kemudian, Pranoto ditahan oleh
Soeharto selama 15 tahun (dari 16
Februari 1966 sampai 16 Februari
1981). Kepada TEMPO, Umiyah, istri
Dayino, menyatakan bagaimana ia
ingat saat Pranoto keluar dari
penjara. Ketika itu suaminya, Dayino,
menemui Pranoto.
Kedua sahabat ini berangkulan dan
Pranoto berpesan kepada Dayino:
“No, kowe ojo melu-melu sing kuoso
iki, mergo sing kuoso iki iblis (Kamu
jangan ikut-ikutan yang berkuasa,
karena yang berkuasa ini iblis).”
Bagian penting lain yang menarik tapi
terasa tak memuaskan dahaga
pembacanya adalah bab G30S-PKI.
Elson tampak bersikap ekstrahati-
hati. Ia tidak ingin terjebak dalam
teori konspirasi. Ia sama sekali tidak
menyentuh kontroversi keterlibatan
CIA di balik G30S-PKI atau bahwa
Soeharto semacam soldier of fortune
yang menjual negara.
Bagaimanapun, sikap hati-hati Elson
ini memiliki sisi positif karena ia
mampu menunjukkan kritik terhadap
Kol. Latief. Berdasar bahan-bahan
wawancara surat kabar, buku, dan
pleidoi Latief, ia menunjukkan
beberapa bagian yang tidak
konsisten dalam pernyataan Kolonel
Latief. Misalnya, pengakuan Latief
bahwa semenjak di Brigade X ia
menjadi anak buah Soeharto
bertentangan dengan pengakuannya
yang lain.
Kesimpulan Elson, sebetulnya baik
Latief maupun Untung sama sekali
tidak akrab dengan Soeharto. Bahwa
fakta Soeharto pernah menghadiri
perkawinan Untung adalah hal yang
dilebih-lebihkan. Elson berpendapat
Soeharto tidak terlibat dalam
peristiwa itu. Tapi dia menangguk
untung. Bagi Elson, Soeharto adalah
sosok yang sulit diketahui isi
hatinya. Di tengah misterinya, Elson
menganggap kekuatan utama
Soeharto adalah kemampuannya
membuat kalkulasi politik.
Salah satu prinsip Soeharto: ia tak
akan bertindak sebelum sampai ada
tanda jelas. Ia sabar, tahan,
menunggu momen tepat, meskipun
dalam rentang itu korban nyawa
berjatuhan. Contohnya adalah pada
waktu malam pembunuhan jenderal
itu. Mendengar laporan Latief bahwa
ada penculikan jenderal, ia tidak
bertindak apa-apa. Mungkin ia
melihat sebuah kesempatan bagi dia
sendiri untuk maju. Demikianlah
taktik politik Soeharto.
Menurut analisis Elson, Soeharto juga
tak suka pada seorang pesaing atau
rival. Banyak pengamat menganggap,
sesungguhnya dalam praktek politik
sehari-hari Soeharto tak ada orang
dekat yang betul-betul dipercaya
Soeharto. Sebab, jika orang itu mulai
menonjol dan dianggapnya “keluar”
dari arahannya, ia akan digencet.
Elson menganggap Soeharto tak akan
menghancurkan lawan (pesaingnya)
apabila dia melihat kesempatan
untuk membuat sang lawan berubah
menjadi anak buahnya. Bila tak
tunduk, ia akan berusaha keras
mengisolasi pesaingnya hingga dia
tidak akan mendapat dukungan.
Sepanjang sejarah, kita lihat Ali
Sadikin yang “dibuang” di masa Orde
Baru. Bahkan soal sepele seperti
bentuk mata uang pun bisa jadi
masalah besar bagi Soeharto.
Ketika Jusuf Ronodipuro
mengusulkan agar kita memiliki uang
kertas bergambar Sukarno, Soeharto
tak setuju kalau Soekarno hanya
tampil sendirian. Akhirnya, uang
pecahan itu diputuskan menampilkan
gambar Sukarno-Hatta. Menurut
Elson, unsur pembalasan dendam
juga menjadi bagian gaya
kepemimpinan Soeharto. Seorang
sumber TEMPO menceritakan, begitu
Sultan Hamengku Buwono IX menjadi
wakil presiden, ia ingat betapa
Soeharto tampak senang. Kepada
sumber TEMPO tersebut, Soeharto
mengatakan bahwa kini Raja Jawa-
lah yang harus tunduk pada dirinya-
petani dari Desa Kemusuk. Dari
pernyataan itu, terasa udara dendam
kelas.
Kelemahan utama dalam
kepemimpinan Soeharto adalah dia
bukan pemimpin yang memiliki visi.
Model kepemimpinannya, menurut
Elson, sangat instrumental,
sederhana. Langkah-langkah yang
diambilnya banyak yang karena
kebutuhan konkret dan praktis. Ia
seolah pengamal ekstrem pepatah
Latin, Carpe Diem: raihlah hari ini.
Soeharto tak banyak membaca. Elson
pernah mendapat cerita bagaimana
seorang lingkaran dalam Istana
pernah diam-diam ingin “mendidik”
Soeharto.
Setiap pekan, sang sumber ini
membawa setumpuk majalah luar
negeri, seperti Time, ke ruang kerja
Soeharto. Tapi, tiap kali ia datang,
tumpukan majalah itu tak tersentuh.
Sekali waktu di Yogyakarta, Sukarno
menyebut Soeharto sebagai koppig
(keras kepala). Sikap koppig ini juga
terasa bagi masyarakat di bawah
pemerintahannya karena Soeharto
begitu defensif apabila ditanya soal
bisnis keluarganya. Bahkan, ketika
tahun 1990-an model nepotisme
yang dia bangun rentan terhadap
krisis, ia tetap defensif. Soeharto,
menurut Elson, sedari awal selalu
membutuhkan sumber-sumber
pemasukan off budget (di luar
pembukuan) yang tidak melalui
pemeriksaan ketat. Ia menciptakan
mesin-mesin uang seperti Ibnu
Sutowo, yang sepak terjangnya di
luar anggaran. Pada waktu itu, semua
berjalan lancar karena faktor boom
minyak. Semua “pelanggaran” yang
dilakukan seolah terlegitimasi dengan
kesuksesan Pertamina membangun
apa saja. Penempatan personel
militer ke dalam lapisan elite
perusahaan sipil juga seolah menjadi
absah.
Tahun 1967, ia menempatkan
Soejono Humardani sebagai dewan
utama Bank Windu Kencana milik
Liem Sioe Liong. Ia seolah memberi
model bagaimana tentara harus
memanfaatkan sumber-sumber
bisnis untuk membiayai operasinya.
Ia juga membiarkan ketika istrinya,
Tien Soeharto, mendirikan yayasan-
yayasan filantropis yang dananya
diperoleh dari perusahaan-
perusahaan. Tahun 1966, bersama
istri Ibnu Sutowo, Tien Soeharto
mendirikan Yayasan Harapan Kita,
yang dananya dijatah beberapa
persen dari PT Bogasari.
Selanjutnya, lingkup yayasannya
tambah beragam, dari yayasan
agama sampai yang bersifat tradisi
seperti Yayasan Mangadek, sebuah
yayasan untuk memelihara Istana
Mangkunegaran yang pasokan
dananya dikoordinasi pengusaha
Sukamdani. Soeharto, mengutip
istilah Harry Tjan Silalahi, adalah
seorang pemimpin petani yang
memiliki mentalitas lumbung.
Seorang petani sehari-hari
penampilannya sederhana, cukup
mengenakan kaus, asal lumbungnya
penuh. Sosok Soeharto terlihat
sederhana, tak suka pesta-pesta.
Tapi ia puas lumbung keluarganya,
sanak familinya, kroninya terisi untuk
tujuh turunan. Mengutip analisis
Jenderal Soemitro, Elson menyebut
Soeharto memang lemah terhadap
keluarganya. Itulah sebabnya kondisi
fisiknya semakin merosot setelah
kematian istrinya pada 28 April 1996.
Padahal, sebelumnya saat kunjungan
ke Kazakhstan, kondisi fisiknya masih
bagus. Ia dikabarkan masih kuat
menunggang kuda lokal yang larinya
cepat. Sayang, Elson tak menjelajahi
soal kematian Tien Soeharto.
Benarkah isu-isu yang tersebar
selama ini? Atau ada fakta lain?
Tentunya itu menarik diulas.
“Kematian Ibu Tien karena serangan
jantung seperti yang ditulis Elson itu
tidak benar,” kata Muhono, yang di
hari-hari kematian Tien Soeharto
mengetahui keadaan dan suasana
Cendana. Buku ini memang banyak
bertumpu pada banyak pustaka dan
riset dalam rangka upaya Elson
mencari atau me-nemukan gaya
personal kepemimpinan Soeharto.
Inilah sebuah gaya yang, celakanya,
begitu tertanam dalam birokrasi
modern Indonesia. Elson tidak
melakukan wawancara dengan
Soeharto. Tapi, itu bukan soal.
Sebab, Cyndi Adams, yang menyusun
biografi Sukarno berdasar wawancara
yang dalam dengan “pujaan”-nya itu,
malah membuat bukunya itu
mengandung banyak bias emosional.
Buku Elson terbilang cukup
komprehensif hanya bila pembaca
ingin mengetahui garis besar
perjalanan politik Soeharto. Tapi, bila
pembaca membaca buku ini dengan
semangat “pembongkaran” sesuatu
yang baru dalam misteri sosok
Soeharto, atau jika ingin mendapat
informasi atau data tekstual yang
mengejutkan, tampaknya buku ini tak
bisa menjadi pilihan.
Sebagaimana fitrah profesi
penulisnya, buku ini adalah sebuah
analisis yang komprehensif tentang
petualangan politik Soeharto yang
disusun dengan rapi dan teliti tanpa
gelora atau keinginan untuk
menggebrak.
*Sumber: Arsip Majalah Tempo

Serbasejarah.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penemuan umat islam

Invasi pasukan mongol (2)

Kristen dan sejarah lama (2)