Embriologi menurut Quran dan sunnah
Embriologi Menurut
Quran dan Sunnah Bagian
ke 2
Redaksi – Rabu, 12 Rajab 1434 H /
22 Mei 2013 14:45 WIB
Oleh : Khaerul Amri H
Allah Swt telah mengaruniakan
`Bukti-Bukti Nyata` kepada setiap
Utusan dari para Rasul-Nya, sebagai
peneguh Risalah yang dibawanya
dalam memikul beban Dakwah dan
menyeru kepada ummat manusia
menuju penyembahan Allah Swt
semata.
ﻟَﻘَﺪْ ﺃَﺭْﺳَﻠْﻨَﺎ ﺭُﺳُﻠَﻨَﺎ ﺑِﺎﻟْﺒَﻴِّﻨَﺎﺕِ …..
Sesungguhnya Kami telah mengutus
rasul-rasul Kami dengan membawa
bukti-bukti yang nyata…. (Al-Hadiid:
25)
Para Ulama menamakan `Bukti-Bukti
Nyata` itu dengan istilah `Mukjizat`,
dan sudan menjadi sunnahtullah
bahwa Mukjizat-mukjizat yang
dikaruniakan pada setiap Rasul
harus sesuai dengan kondisi ummat
yang diserukan, sesuai dangan
wawasan dan pemikiran mereka agar
memberi pengaruh kuat dalam
mengajak mereka ke jalan yang
benar. Seperti pada Zaman Firaun,
ketika kaum paganis Mesir Kuno
dahulu sangat mengagungkan
kekuatan Sihir, maka dengan
Mukjizat-Mukjizat nyata Nabi Musa
A.s dapat mengalahkan Ilusi-ilusi
para penyihir untuk membebaskan
Bani Israel dari cengkraman Firaun,
dan tatkala Nabi akhir zaman
Muhammad Saw diurus untuk
seluruh Manusia, Allah Swt
mengaruniakannya dengan beraneka
ragam Mukjizat yang sesuai dengan
Kondisi, wawasan dan pemikiran
Ummat manusia dari setiap
generasi-generasi hingga hari
Kiamat. Seperti Pada zaman Arab
Jahiliah, ketika kefasihan tutur kata
tertuang dalam bait-bait Syair yang
sangat dibanggakan oleh bangsa
Arab, maka Al-Quran tampil dengan
gaya literatur yang karismatik dan
tak tertandingi yang seketika
melumpuhkan lidah-lidah para
pujangga besar Arab dalam
menentang dan mengingkari
keajaiban kesastraan Mukjizat Nabi
Muhammad Saw. Tidak berhenti
sampai di sini, setelah Beliau wafat
bukti-bukti kebenarannya masih
terus bermunculan dari generasi ke
generasi, betapa banyak kejadian
yang membuktikan kebenaran
Nubuwat-Nubuwat Baginda
Rasulullah ?, Bukti kebenaran
tersebut akan terus bermunculan
bahkan pada era modern saat ini,
ketika kejayaan sains melahirkan
teknologi dan penemuan-penemuan
yang menakjubkan Allah Swt
kembali memperlihatkan kebesaran-
Nya lewat Mukjizat Nabi Akhir
Zaman ini yang terdapat dalam Al-
Quran dan As-sunnah. Diantara
Mukjizat paling spektakuler yang
menyikap keterlambatan Ilmu
pengetahuan dan banyak
mengislamkan para Ilmuwan Besar
(1) adalah Mukjizat tentang
tahapan-tahapan penciptaan
manusia dalam janin (Embriologi)
yang akan kita ketahui dalam
beberapa bagian tulisan InsyaAllah.
Ketika berbicara tentang Embriologi
dalam prespektif Al-Quran dan As-
Sunnah terdapat beberapa fase atau
tahapan dasar yang akan dilalui
embrio sebelum berevolusi menjadi
manusia, Mengenai tahapan evolusi
embrio Allah Swt berfirman:
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟْﺈِﻧﺴَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺳُﻠَﺎﻟَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻃِﻴﻦٍ
) 12 (ﺛُﻢَّ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻩُ ﻧُﻄْﻔَﺔً ﻓِﻲ ﻗَﺮَﺍﺭٍ ﻣَﻜِﻴﻦٍ
) 13 (ﺛُﻢَّ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟﻨُّﻄْﻔَﺔَ ﻋَﻠَﻘَﺔً ﻓَﺨَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟْﻌَﻠَﻘَﺔَ
ﻣُﻀْﻐَﺔً ﻓَﺨَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟْﻤُﻀْﻐَﺔَ ﻋِﻈَﺎﻣًﺎ ﻓَﻜَﺴَﻮْﻧَﺎ
ﺍﻟْﻌِﻈَﺎﻡَ ﻟَﺤْﻤًﺎ ﺛُﻢَّ ﺃَﻧﺸَﺄْﻧَﺎﻩُ ﺧَﻠْﻘًﺎ ﺁﺧَﺮَ ﻓَﺘَﺒَﺎﺭَﻙَ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘِﻴﻦَ ) 14 )
“Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah (12)
Kemudian Kami jadikan saripati itu
air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim) (13)
Kemudian air mani itu Kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu
Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami
jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah
Allah, Pencipta Yang Paling Baik
(14) ”( Al-Muminun: 12-14)
Dari ayat ini, Fase penciptaan
Manusia terbagi dalam beberapa
tahapan yaitu: Fase pertama :
sperma (Air mani), Fase kedua :
Segumpal darah dan daging, Fase
ketiga : pembentukan tulang
belulang dan pembungkusan
(dengan) daging, Fase Keempat :
pembentukan Manusia.
Fase Pertama-Sperma
Di antara permasalahan yang sukar
nan kompleks sepanjang perjalanan
sejarah embriologi adalah
Penemuan mengenai urutan dan
tahapan-tahapan pembentukan
Embrio, dianggap rumit dikarenakan
keterbatasan sarana dalam meneliti
eksistensi embrio yang berukuran
sangat kecil terkhusus pada
minggu-minggu pertama kehamilan,
hingga ditemukannya Mikroskop
pada abad ke tujuh belas yang
mendorong para Ilmuwan untuk
menyimpulkan bahwa sel sperma
pada lelaki dan sel telur pada
perempuan memiliki peranan
mendasar dalam pembentukan
embrio.
Namun pada hakekatnya, Al-Quran
( yang kembali ke abad ketujuh
silam) adalah referensi pertama
yang menjelaskan secara detail
tahapan-tahapan eksternal embrio,
dan proses-proses internal penting
yang terjadi dalam setiap
tahapannya. Dengan pengistilahan
Komprehensif yang sangat fleksibel
Al-Quran telah menguraikan fakta
Ilmiah tersebut.
Ada pun Fase pertama yang akan
kita bahas pada bagian tulisan kali
ini adalah Tahapan Sperma (air
mani) atau Spermatozoid ( ﺍﻟﻨﻄﻔﺔ )
Definisi istilah
Kata ﻧﻄﻔﺔ Sperma dalam bahasa
Arab dapat diartikan dalam beberapa
makna, diantaranya: Sedikit atau
setetes air. Dan Ibnu Manzur
menafsirkan bahwa: Sperma
disamakan dengan setetes air (2)
Sepeti yang diisyaratkan dalam
Hadist riwayat Imam ahmad dari
Abdullah bin Masud ra bahwa:
seorang yahudi pernah berlalu
sementara Rasulullah Saw tengah
berbincang dengan para sahabatnya,
lalu berkatalah Kafir Qurais
kepadanya: “Wahai Yahudi,
sesungguhnya orang ini (Nabi
Muhammad) mengaku dirinya
sebagai Nabi”, Yahudi berkata:
“akan kutanyakan kepadanya
tentang sesuatu yang tidak
diketahui kecuali para Nabi”, maka ia
pun datang dan duduk di hadapan
Beliau kemudian bertanya: “ wahai
Muahmmad, dari manakah Manusia
diciptakan?, Rasulullah Saw
menjawab: “Wahai yahudi,
(diciptakan) dari setiap Air mani
Laki-laki dan Perempuan” (3)
Dari hadist ini dapat dikatakan
bahwa istilah air mani mencangkup
Sel sperma dan Ovum, yang akan
berakhir pada proses implantasi
(penanaman) dan ada pun prose-
proses yang akan dilalui sperma
sebagai berikut:
1. Air yang terpancarkan ( ﻣﺎﺀ
ﺩﺍﻓﻖ )
Sperma pada Pria keluar dengan
terpancarkan, seperi yang
diisyaratkan dalam Al-Quran:
ﻓَﻠْﻴَﻨﻈُﺮْ ﺍﻟْﺈِﻧﺴَﺎﻥُ ﻣِﻢَّ ﺧُﻠِﻖَ ) 5 ( ﺧُﻠِﻖَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﺀٍ
ﺩَﺍﻓِﻖٍ ) 6 )
“Maka hendaklah manusia
memperhatikan dari apakah dia
diciptakan? (5) Dia diciptakan dari
air yang dipancarkan (6) (Ath
Thariq: 5-6)
Yang perlu diperhatikan dari ayat ini
bahwa kata `Pancar` disandingkan
dengan `Air` yang menunjukkan
makna: sifat pancaran yang kuat
pada Air (4)
Di era Modern kini, ilmu
pengetahuan menemukankan bahwa
sel-sel sperma yang terdapat pada
air mani pria harus berkriteria
organisme yang aktif dan bergerak
memancar, karena hal itu
merupakan syarat terpenuhinya
proses inseminasi (pembuahan).
Juga ilmu pengetahuan
berkesimpulan bahwa Air mani
perempuan yang mengandung Ovum
(sel telur) bergerak memancar
sewaktu keluar menuju saluran
rahim (Tuba Fallopi) dan
karakteristik Ovum harus berjenis
organism aktif dan bergerak
merambat untuk mencapai proses
pembuahan.
Maka makna dari `Air yang
dipancarkan` yang dijelaskan dalam
Al-Quran telah mewakili sifat cairan
dari sperma dan Ovum sebelum
proses pembuhan.
Gambar 1 : sperma atau Air Mani
yang diperbesar 450 kali, setiap sel
sperma memiliki kepala berbentuk
Oval dengan sedikit menonjol,
dengan tubuh pendek dan ekor
bergerak membantu membawanya
mencapai tempat pembuahan.
Gambar 2 : Ovum yang diperbesar
(100) kali, proses penarikan sel
telur ke bagian dalam saluran.
Nilsson et al, A Child is Born, New
York, Delacorte Press, 1982
2. Saripati ( ﺳﻼﻟﺔ )
Lafaz ﺳﻼﻟﺔ Saripati dalam bahas
Arab digunakan dalam beberapa
makna, diantaranya:
Sesuatu yang tercabut atau terlepas
secara perlahan-lahan (5)
Juga bisa bermakna: ikan panjang
(6)
Salah satu Ahli tafsir mengatakan
bahwa Kata ﺍﻟﻤﻬﻴﻦ (yang hina) yang
dimaksud dalam Ayat adalah cairan
lelaki (7)
ketika kita memperhatikan dengan
seksama bentuk sel-sel Sperma
maka bisa kita simpulkan bahwa sel
Sperma adalah: Saripati yang
berasal dari sperma laki-laki
berbentuk ikan panjang dari cairan
yang hina (Air mani) (Lihat Gamabar
1), semua hal itu telah tercantum
dalam firman-Nya:
ﺛُﻢَّ ﺟَﻌَﻞَ ﻧَﺴْﻠَﻪُ ﻣِﻦْ ﺳُﻠَﺎﻟَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﺀٍ ﻣَﻬِﻴﻦٍ
Kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari saripati air yang
hina (As-Sajadah: 8)
Dengan masuknya sel sperma pada
sel telur, maka keduanya akan
membentuk ﻧﻄﻔﺔ ﺍﻷﻣﺸﺎﺝ atau
setetes mani yang bercampur
(antara benih lelaki dengan
perempuan) (Lihat gambar 4).
Dalam salah satu Hadist Nabawi
menjelaskan bahwa proses
pembuahan tidak akan terjadi dari
semua sel-sel sperma yang terdapat
pada Air mani lelaki, Rasulullah Saw
Bersabda:
ﻣﺎ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻮﻟﺪ
“Tidaklah dari setiap Air (akan)
menjadi Anak” (HR. Muslim) (8)
Uraian Hadis Nabawi di atas sangat
tepat dengan apa yang diungkapkan
oleh ilmu pengetahuan saat ini
bahwa proses penyeleksian yang
dialami sel-sel sperma terjadi
sebelum tahapan penciptaan.
Gambar 3 : Ovum yang dikelilingi
oleh sel-sel Sperma yang aktif
menuju ke aranya, Dan ketika salah
satu dari sel-sel itu berhasil
mencapainya (pembuahan) maka
tahapan Saripati akan membuahkan
ﻧﻄﻔﺔ ﺍﻷﻣﺸﺎﺝ atau setetes mani
yang bercampur.
Gambar 4 :Diperoleh dari Mikroskop
Elektronik, Gambar dari proses
pembuahan Sel telur dan sel sperma
yang selanjutnya akan membentuk
ﻧﻄﻔﺔ ﺍﻷﻣﺸﺎﺝ atau Zigot. Permission
from Nilsson et al, A Child is Born,
New York, Delacorte Press, 1982
3. Setetes mani yang tercampur (
ﻧﻄﻔﺔ ﺍﻷﻣﺸﺎﺝ )
Bentuk Ovum yang telah terbuahi
mensimulasikan bentuk `Setetes
Air`, wujud ini persis dengan makna
ﻧﻄﻔﺔ (sedikit atau setetes air)
seperti yang telah dijelaskan.
Adapun makna dari ﻧﻄﻔﺔ ﺍﻷﻣﺸﺎﺝ
adalah: setetes cairan yang telah
tercampuri, dan setetes campuran
ini dapat diketahui pada awal proses
pembentukannya (Zigot).
Mengenai tetesan cairan ini Al-
Quran telah menyinggungnya
dengan istilah `Setetes Mani` dalam
Ayat:
ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟْﺈِﻧﺴَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﻧُﻄْﻔَﺔٍ ﺃَﻣْﺸَﺎﺝٍ ﻧَﺒْﺘَﻠِﻴﻪِ
ﻓَﺠَﻌَﻠْﻨَﺎﻩُ ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﺑَﺼِﻴﺮًﺍ
Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari setetes
mani yang bercampur yang Kami
hendak mengujinya (dengan
perintah dan larangan), karena itu
Kami jadikan dia mendengar dan
melihat. (Al-Insan: 2)
Adapun uraian penting yang
terdapat dengan ayat ini, yaitu kata
`Setetes` yang merupakan kata
tunggal bersandingan dengan kata
ﺃﻣﺸﺎﺝ (kata jamak ) yang berfungsi
sebagai sifat dari kata `Setetes`,
dalam qaidah bahasa Arab
menjelaskan bahwa kedudukan sifat
harus mengikut dengan yang disifati
baik itu dalam keadaan Tunggal,
rangkap, atau jamak (lebih dari
satu).
Dan pengistilahan ﻧﻄﻔﺔ ﺍﻷﻣﺸﺎﺝ
sebagai mana yang dipahami oleh
para Ulama Tafsir bahwa : ﻧﻄﻔﺔ
bermakna tunggal, tetapi dalam arti
Jamak (9)
Dan kata ﺃﻣﺸﺎﺝ dalam perspektif
Ilmiah memiliki signifikansi yang
sangat mendetail yaitu : ibarat
Organisme tunggal yang terdiri dari
berbagai campuran dan membawah
unsur karakteristik leluhur dan
cucu-cucu pada setiap Janin.
Dalam tahapan ini pertumbuhannya
akan terus berkembang dalam wujud
`Setetes Air` yang terdiri dari
berbagai sel kecil yang disebut
Blastomer, dan setelah Empat hari
akan terdiri dari bulatan-bulatan sel
yang dinamakan Morula yang
kemudian menjadi Blastocyst.
Melalui Mikroskop, tampak gambar
ﻧﻄﻔﺔ pada berwujud Morula
Selama tahapan ini, istilah ﻧﻄﻔﺔ
ﺍﻷﻣﺸﺎﺝ sangat cocok untuk
mengambarkan perkembangan yang
dilalui sel sperma dan Ovum hingga
menjadi Zigot.
Demikianlah spesifikasi Al-Quran
yang begitu menakjubkan, Dengan
mengunakan pengistilahan yang
menyeluruh dan pengambaran yang
mendetail, Al-Quran telah
menguraikan fase pertama tentang
penciptaan Manusia (yang masih
berlanjut pada tiga tahapan dalam
Zigot di bagian tulisan selanjutnya) ,
jika tanpa dilengkapi dengan alat
pendeteksi yang mutakhir mustahil
Ilmu pengetahuan bisa
mengungkapkan misteri Embrio
yang telah terkubur selama
berabad-abab, Dan dengan
kemajuan teknologi dan Ilmu
pengetahuan hal itu Justru menjadi
saksi atas kebenaran Mukjizat Al-
Quran dan As-sunnah. Dengan
seiring berjalannya waktu Allah Saw
akan terus memperlihatkan
kebesarannya lewat penemuan-
penemuan Umat Manusia itu
sendiri.
ﻭَﻟَﺘَﻌْﻠَﻤُﻦَّ ﻧَﺒَﺄَﻩُ ﺑَﻌْﺪَ ﺣِﻴﻦٍ
“Dan sesungguhnya kamu akan
mengetahui (kebenaran) berita Al
Quran setelah beberapa waktu
lagi”(Shaad: 88)
Catatan kaki:
( 1) -http://islamstory.com/ar/
greats-converts-to-islam
-http://quran-m.com/
container2.php?
fun=artview&id=1080
(2) Lisanul Arab 9:335
(3) Musnad Ahmad 1: 465
(4) lihat Tafsir Al-Qurtubi 20:4, juga
dalam Hasyiah Jumal – Jalalain
4:517, Fathul Qodir 5:419
(5) Lisanul Arab jilid 11 hal 338,
Kamus Muhit 3:407 , Tajul Lugah
5:1731, Tajul `Urus 7-377 / 378
(6) Kamus Muhit 3:407, Tajul `Urus
7-377 / 378
(7) Tafsir At-Thobary 21:59, Tafsir
Qurtuby 19:159
(8) diriwayatkan oleh Muslim dalam
Sahihi nya, (dari hadis yang
panjang ) 2:1064
(9) Tafsir Al-Qurtubi 19:121,
Hasyiah Showi – Jalalain 4:273 ,
Fathul Qadir –AsSykhani 5:344
Copyright © 2012 eramuslim.com
Media Islam Rujukan
Komentar
Posting Komentar