Invasi pasukan mongol (2)

Invasi Mongol ke Kerajaan
Islam (bagian 2)

Persiapan Penaklukkan
Daulah Abbasiyah
Pada tahun 1227, Jenghis Khan
wafat, ia meninggalkan wilayah
kekuasaan yang sangat luas.
Keturunan-keturunannya
melanjutkan tugasnya sebagai
penguasa dan penakluk dunia.
Pada generasi keempat, Mongol
dipimpin oleh Kaisar Munk
Khan. Dalam menjalankan
kekuasaannya, Munk Khan
dibantu oleh tiga orang
saudaranya. Pertama, Ariq
Buqan yang tinggal bersamanya
di ibu kota Mongol, Qora Qorum,
membantunya mengatur
pemerintahan pusat. Yang
kedua adalah Kubilai Khan,
seorang raja masyhur yang
sempat menyerang tanah air
nusatara. Ia memegang
kekuasaan Mongol di wilayah-
wilayah Timur, seperti China dan
Korea. Dan yang ketiga adalah
seorang raja kejam yang
karakternya paling mirip dengan
Jenghis Khan, ia adalah Hulagu
Khan. Hulagu menguasai daerah
bekas-bekas kerajaan Persia
dan sekitarnya. Wilayah yang
langsung berhadap-hadapan
dengan teritorial Dinasti
Abbasiyah.
Setelah berhasil menaklukkan
sebagian wilayah Eropa, Mongol
melirik kerajaan besar lainnya
untuk mereka taklukkan, Daulah
Abbasiyah. Hulagu Khan
sebagai perwakilan Mongol di
Asia Barat pun bersiap-siap
mewujudkan cita-cita besar
tersebut. Rencana penaklukkan
Abbasiyah ia rintis pada tahun
649 H, lima tahun sebelum
mereka menginjakkan kaki di
Baghdad. Hulagu menyadari
kekuatan yang dimiliki oleh
kerajaan Islam ini cukup besar,
oleh karena itu persiapan
eksapansi ini harus benar-benar
matang. Lima tahun sebelum
kedatangannya menuju Irak,
Hulagu memulai persiapannya
dengan memperbaiki jalur yang
akan dilintasi pasukan Mongol
dari wilayah Cina hingga menuju
Irak. Ia juga membangun
jembatan-jembatan besar di
sungai-sungai antara China dan
Baghdad untuk mengangkut
alat-alat berat sebagai materi
peperangan.
Tidak hanya persiapan materi,
Mongol juga memainkan politik
yang dinamis. Melalui raja
agung mereka, Munk Khan,
Mongol berhasil melobi raja
Armenia dan raja-raja Nasrani di
wilayah Syam untuk bekerja
sama dengan Mongol
menaklukkan Daulah Abbasiyah.
Selain itu, mereka juga merekrut
orang-orang dalam Daulah
Abbasiyah seabgai mata-mata,
seperti Muayyiduddin al-Qomi
asy-Syi’i, ia adalah perdana
menteri berideologi Syiah yang
sangat membenci Ahlussunnah,
kemudian Badruddin Lu’lu’, amir
wilayah Mosul.
Setelah genap lima tahun,
persiapan yang direncanakan
oleh Hulagu pun rampung.
Jalan-jalan dari China menuju
Irak telah siap dilalui oleh
tentara dan alat-alat berat yang
akan mereka bawa. Lobi-lobi
politik dengan penguasa-
penguasa daerah yang akan
mereka lewati pun mencapai
kesepakatan, sehingga pasukan
Mongol bisa lewat dengan aman
dan tidak perlu membuang
energi ekstra untuk berperang.
Hulagu tahu persis keadaan
Daulah Abbasiyah; kelemahan
dan potensi-potensi kekuatan
yang bisa diandalkan
Abbasiyah, keadaan militernya,
dari jumlah tentara hingga
peralatan-peralatan militer,
sampai-sampai keadaan
psikologi masyarakat Abbasiyah
pun Hulagu mengetahuinya. Hal
ini tentu saja berkat bantuan
Muayyiduddin al-Qomi asy-Syi’i
dan mata-matanya yang banyak
tersebar di lingkungan Daulah
Abbasiyah. Di sisi lain, raja-raja
Nasrani di daerah Armenia dan
Anthakiyah siap memberikan
bantuan militer kepada Mongol.
Dengan demikian, Hulagu bisa
memastikan bahwa tentara
Abbasiyah tidak akan mampu
membela diri mereka sendiri
apalagi menyelamatkan Daulah
Abbasiyah. Ia sangat yakin
Baghdad dan Daulah Abbasiyah
akan hancur di tangannya dan
pasukannya. Pasukan Mongol
pun berangkat dari wilayah
Persia bagian Barat menuju
Baghdad.
Hulagu membagi pasukannya ke
dalam tiga kelompok: kelompok
pertama adalah para pembesar
pasukan, terdiri dari panglima
perang dan pimpinan-pimpinan
kabilah. Pimpinan kelompok ini
adalah Hulagu Khan sendiri.
Kelompok ini akan mengepung
Baghdad dari sisi Timur.
Kelompok kedua adalah
pasukan sayap kiri yang
dipimpin oleh jenderal perang
terbaik Hulagu Khan, yaitu
Katbughan. Pasukan ini
dikondisikan sedemikian rupa
sebagai pasukan siluman.
Mereka akan bergerak
menyelinap sehingga tidak akan
diketahui kedatangannya kecuali
tinggal beberapa kilometer dari
Baghdad. Jarak Baghdad
dengan tempat pemberangkatan
pasukan, Kota Hamdan, adalah
450 Km. Katbughan memimpin
pasukannya untuk mengepung
Baghdad dari wilayah Timur
Laut. Sementara kelompok
terakhir dipimpin oleh Baiju,
pasukan ini tidak kalah
menakutkannya dibandingkan
dengan dua pasukan
sebelumnya. Pasukan inilah
yang dikirim Mongol untuk
menaklukkan Eropa dan mereka
akan menyerang Baghdad dari
sisi Barat.
Awal Pengepungan
12 Muharam 656 H pasukan
Mongol mengepung kota
Baghdad. Diawali dengan
kedatangan pasukan Hulagu
Khan di sisi Timur dan
Katbughan di sebelah Timur
Laut. Baghdad pun tersentak,
Khalifah Mu’tashim Billah
mengumpulkan pembesar-
pembesarnya untuk membahas
keadaan genting ini, semua
pembesar kerajaan berkumpul
termasuk juga Muayyiduddin al-
Qami. Hasil dari pertemuan ini
adalah jihad menghadapi
pasukan besar Mongol.
Pasukan Islam dipimpin oleh
panglima perang Aybak
rahimahullah. Ia memimpin para
mujahid untuk berhadapan
langsung dengan pasukan
Hulagu Khan dan Katbughan
yang telah berkumpul. Sebelum
berangkat, ia baru mendengar
ternyata ada pasukan Mongol
dalam jumlah besar di bawah
pimpinan Baiju datang dari
wilayah Eropa untuk mengepung
sisi Barat Kota Baghdad.
Panglima Aybak memutuskan
pasukan Bayju-lah yang harus
dihadapi pertama kali, karena
apabila pasukan Bayju tidak
dihadapi, maka Baghdad akan
jatuh dengan lebih mudah dan
dipastikan sejumlah besar umat
Islam akan terbantai. Namun
ternyata Panglima Aybak dan
pasukannya berhasil dikalahkan
oleh pasukan Bayju.
Jatuhnya Baghdad
Melihat kekalahan yang dialami
pasukan Aybak, Muayyiduddin
al-Qami menawarkan kepada
Khalifah al-Mu’tashim agar
mengadakan negosiasi dengan
Hulagu Khan. Khalifah pun
menyepakati usul yang diajukan
oleh al-Qami dan
memerintahkan al-Qami agar
menemui Hulagu Khan. Al-Qami
berangkat bertemu Hulagu
ditemani dengan seorang
Nasrani yang juga membenci
Khalifah dan Daulah Abbasiyah,
nama utusan tersebut adalah
Makika.
Setelah tiba di hadapan Hulagu,
penghiantan al-Qami semakin
menjadi. Ia menjalin
kesepakatan yang berdampak
sangat buruk kepada Daulah
Abbasiyah dan umat Islam
secara umum. Hulagu
menawarkan kedudukan kepada
al-Qami dan Makika apabila
keduanya membantu Mongol
dalam penaklukkan Daulah
Abbasiyah. Dengan cepat
keduanya menerima tawaran
Hulagu tersebut. Seandainya
Hulagu tidak menawarkan
keududukan tersebut, keduanya
sudah cukup senang melihat
Daulah Abbasiyah hancur
apalagi ditambah iming-iming
kedudukan, tentu ini lebih
membuat mereka bersemangat.
Setelah beberapa kali
menghadap antara Hulagu dan
al-Mu’tashim, al-Qami
menyampaikan pesan
bahwasnaya Hulagu hendak
mengadakan perjanjian dengan
poin-poin yang mengesankan
kemenangan yang besar bagi
Abbasiyah:
- Menghentikan peperangan
antara kedua kerajaan dan
diganti dengan hubungan
bilateral yang saling
menguntungkan.
- Menikahkan anak laki-laki
Khalifah dengan putri Hulagu.
- Mu’tashim Billah tetap
menjadi khalifah.
- Penduduk Baghdad tanpa
terkecuali dijamin keamanannya.
Namun Hulagu mengajukan
syarat untuk poin-poin
perjanjian tersebut:
- Hendaknya Baghdad
menghancurkan benteng Irak.
- Menimbun kembali parit-parit
(untuk perang).
- Menyerahkan persenjataan.
- Baghdad menjadi koloni
kerajaan Mongol.
Hulagu meyakinkan bahwa
perssyaratan yang ia ajukan
adalah untuk mewujudkan
keadilan, kemerdekaan, dan
keamanan. Setelah kesepakatan
ini terwujud, Hulagu berjanji
akan kembali ke wilayahnya
meninggalkan penduduk Irak,
membiarkan mereka berhukum
dengan undang-undang mereka
sendiri, dan mengatur negara
sesuai kebijakan mereka
sebelumnya.
Mu’tashim sangat meragukan
janji Hulagu ini. Salah seorang
penasihat Khalifah mengatakan,
ini adalah siasat Hulagu,
seandainya Anda menolaknya,
pasti Hulagu akan membunuh
Anda dan kalau Anda
menerimanya masih ada
kemungkinan Anda akan
selamat walaupun kecil.
Mu’tashim pun terus merenungi
dan memikirkan langkah apa
yang akan ia ambil sementara
Hulagu dan pasukannya sudah
sangat ingin merampas
kekayaan Baghdad dan melihat
keindahan kota tersbut dari
dalam.
Benar saja, Hulagu tidak mau
memberi Khalifah waktu yang
panjang untuk berpikir. Ia
memaksa Khalifah agar berpikir
cepat dengan melempari
benteng Baghdad dengan bola
api. Panah-panah pun mulai
masuk ke istana Khalifah hingga
membunuh salah seorang
pembantunya di hadapannya.
Menurut Ibnu Katsir perlawanan
yang dilakukan Baghdad
hampir-hampir tidak
berpengaruh terhdap orang-
orang Mongol.
Melihat keadaan semakin
genting, Khalifah meminta
nasihat kepada Muayyiduddin
al-Qami apa yang harus ia
lakukan. Al-Qami menyarankan
agar Khalifah secara langsung
menemui Hulagu. Dengan
lemahnya, Khalifah pun
menuruti begitu saja saran dari
al-Qami. Ia keluar dari Baghdad
bersama menteri-menteri dan
pengawal-pengawalnya dalam
keadaan rendah dan hina.
Setelah sampai di hadapan
Hulagu, kepedihan demi
kepedihan dihadapi Khalifah;
seluruh pengawalnya dibunuh,
kemudian anaknya sulungnya,
Ahmad Abul Abbas dibunuh di
hadapannya, lalu putranya yang
lain, Abdurrahman Abu al-
Fadhail dan Mubarak Abu al-
Manaqib juga dibunuh
dihadapnnya, tidak hanya itu
saudari-saudari perempuannya
pun ditawan. Kemudian al-Qami
memanggil ulama-ulama
Ahlussunnah di Baghdad untuk
dieksekusi. Barulah mereka
sadar bahwa al-Qami adalah
musuh dalam selimut, namun
semua itu sudah sangat
terlambat. Dan terakhir Khalifah
al-Mu’tashim pun dieksekusi, ia
digulung di sebuah karpet, lalu
diinjak-injak dengan kuda
hingga ia tewas. Setelah itu
Baghdad dihancurkan dan
jutaan nyawa melayang, atap-
atap mengucurkan darah
manusia, mayat-mayat
bergelimpangan di jalanan kota.
Demikianlah akhir dari
kekuasaan Daulah Abbasiyah
yang telah berkuasa selama 508
tahun.

Ditulis oleh Nurfitri Hadi,
S.S.,M.A.

Artikel www.KisahMuslim.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penemuan umat islam

Kristen dan sejarah lama (2)