Invasi pasukan mongol (1)
Sejarah Islam – Invasi
Pasukan Mongol ke Kerajaan
Islam (Bagian 1)
Siapakah Orang-orang
Mongol?
Dalam khazanah sejarah dunia ,
tercatat bahwasanya bangsa
Mongol mulai muncul pada
akhir abad ke-12 atau awal
abad ke-13 M. Pada mulanya,
orang-orang Mongol adalah
sekumpulan masyarakat nomad
yang mendiami daerah hutan
Siberia dan Mongolia luar.
Mereka menempati daerah
antara gurun pasir Gobi dan
danau Baikal. Mereka hidup
sebagai pengembara dan tinggal
di perkemahan.
Kehidupan orang-orang Mongol
dikenal dengan kehidupan bar-
bar; mereka tidak mengenal
kebersihan dan memakan
semua daging binatang. Mereka
menyembah matahari di saat
terbit dan ada pula yang
menganut cabang Nestoria dan
Sammaniah yang
mempertahankan kepercayaan
kuno terhadap kesucian
berbagai peristiwa dan benda
alam. Sungai, mata air, Guntur ,
api, dll mereka anggap sebagai
ruh-ruh suci, sementara
kekuatan teritngginya adalah
Langit Biru atau Khokh Tenger.
Di sisi lain orang-orang Mongol
juga dikenal pemberani, sabar,
dan kuat menahan rasa sakit
ketika diintimidasi oleh musuh.
Sama seperti orang-orang Arab,
Mongol pun menganut paham
tribalisme (kesukuan) yang
kental. Mereka sangat patuh dan
menjunjung tinggi kepala suku
mereka.
Para sejarawan Arab sering
menyebut mereka dengan
orang-orang Tartar, memang
demikianlah, orang-orang
Mongol ini memang satu anak
rumpun dengan bangsa Tartar.
Jenghis Khan
Jenghis Khan adalah tokoh
sentral dalam sepak terjang
perjalanan sejarah bangsa
Mongol. Berkat
kepemimpinannya bangsa
Mongol yang awalnya hanyalah
orang-orang sabana yang tidak
mengenal dan dikenal oleh
peradaban luar, kemudian
menjadi bangsa penakluk yang
disiplin dan memiliki
keterampilan perang yang
sangat diperhitungkan.
Ia lahir pada tahun 1162 M di
wilayah Daeliyun Buldagha,
Mongolia. Ia merupakan anak
dari seorang kepala suku yang
bernama Ishujayi dan nama
kecilnya adalah Temujhin yang
berarti besi atau baja yang kuat.
Kehidupan Temujhin cukup
keras dan hal ini tentu saja
berpengaruh dalam
pembentukan karakter dan
kepribadiannya. Saat berumur
13 tahun, terjadi perselisihan
dan perpecahan di dalam suku
Kiyat, keluarga Temujhin pun
menjadi tawanan perang. Dari
sinilah kemudian dia bangkit
dan menjadi seseorang yang
memiliki karakter yang keras
dan kuat.
Ia menggantikan ayahnya
sebagai kepala suku saat
berusia 13 tahun. Awal
kepemimpinannya dimulai
dengan tantangan berat, yakni
mempersatukan suku-suku
Mongol yang terpecah-pecah.
Setelah orang-orang Mongol
bersatu, ia berhasil memimpin
rakyatnya menaklukkan
beberapa daerah di sekitar
wilayah China.
Pada tahun 1211 M, Jenghis
Khan dan pasukannya yang
berjumlah 100.000 prajurit yang
ia bagi menjadi 10 kelompok,
berangkat menuju China untuk
menaklukkan daerah tersebut.
Mereka membuka kemenangan
dengan berhasil menaklukkan
wilayah Xi Xia. Kemudian
ekspansi dilanjutkan menuju
Beijing yang diperintah oleh
Dinasti Jin pada tahun 1214 M.
Mereka mengepung Beijing yang
memiliki tembok pertahanan
terkokoh di masa itu. Dengan
pengepungan yang semakin
ketat dan menyulitkan, akhirnya
Kaisar Jin menyerah dan
bersedia menjadi negara koloni
Mongol di bawah kepemimpinan
Jenghis Khan. Kaisar Jin
menyerahkan seorang puteri
untuk diperistri Jenghis Khan,
500 bocah laki-laki dan
perempuan, 3000 kuda, dan
10.000 gulungan sutra.
Yang menjadi perhatian dari
penaklukkan Jenghis Khan
bukan hanya kekejamannya
dalam berperang, yang
memanfaatkan para tawanan
sebagai tameng pelindung di
saat menyerang, tapi juga
bagaimana ia menaklukkan
dengan menebarkan sebuah
teror yang sangat menakutkan.
Apabila sebuah negeri
menyerah, maka ia akan
meminta upeti dan negeri
tersebut harus bersedia menjadi
wilayah koloni yang harus
menaati perintah-perintahnya.
Namun apabila sebuah negeri
ditaklukkan dengan cara
berperang, maka ia akan
membantai semua orang yang
ada di dalam negeri tersebut
meskipun mereka adalah warga
sipil bahkan wanita dan anak-
anak. Sebagai contoh adalah
penyerangan terhadap wilayah-
wilayah Khawarezm, lebih dari
2,5 juta jiwa dibantai oleh
pasukan-pasukannya.
Ekspansi ke Kerajaan Islam
Kisah ekspansi bangsa Mongol
ke kerajaan-kerajaan Islam
adalah sebuah kisah pilu yang
begitu mengerikan. Salah
seorang sejarawan ketika
hendak mengisahkan ekspansi
Mongol ke wilayah Islam, ia
mengatakan, belum pernah ada
sebelumnya sebuah budaya
yang menggunakan kekuatan
untuk membinasakan seperti
bangsa Mongol, dan belum
pernah sebelumnya sebuah
budaya menderita sebagaimana
yang tak lama lagi akan diderita
dunia muslim.
Sebelumnya kabar tentang
jatuhnya Beijing ke tangan
Mongol sempat terdengar oleh
seorang duta dari Khawarezm.
Ia pun merasakan keheranan
yang sangat, bagaimana bisa
kota yang sangat hebat dan
terlindungi dengan sangat baik
telah jatuh ke tangan kaum
yang semata-mata adalah
pengembara. Ia mengabarkan
bahwa tulang-belulang orang-
orang yang dibantai telah
membentuk gunungan-
gunungan dan tanahnya
berminyak karena lemak-lemak
dari jasad-jasad tersebut. Ia
bahkan membenarkan sebuah
cerita gila yang mengatakan
bahwa 60.000 gadis
menjatuhkan diri dari atas
tembok demi menghindarkan
diri jatuh ke tangan orang-
orang Mongol. Dan sebentar
lagi bangsa Mongol akan masuk
ke wilayah Islam dan
menorehkan kengerian yang
lebih dari apa yang terjadi
sebelumnya.
Ada beberapa alasan yang
ditengarai menjadi latar
belakang Jenghis Khan
mengekspansi negeri-negeri
Islam. Pertama, alasan yang
terpenting melebihi segalanya
adalah penaklukkan tersebut
merupakan takdir yang
dibebankan oleh langit kepada
dirinya tanpa disertai alasan
yang jelas. Sementara
penghancuran adalah hanya
masalah strategi dan
pembantaian adalah ekses dari
peperangan.
Kedua, masalah ideologi.
Orang-orang Mongol termasuk
Jenghis Khan adalah penganut
ajaran Shammaniah yang
mempertahankan kepercaaan
kuno terhadap kesucian
berbagai peristiwa dan benda
alam, diantaranya: air, api,
hujan, dan petir. Sementara
umat Islam menggunakan
benda-benda suci tersebut,
dalam hal ini air, sebagai
perantara dalam ritual ibadah
dan Islam pun memerangi
keyakinan paganisme dan
animism yang masih dipercayai
oleh orang-orang Mongol. Hal
ini turut memotivasi bangsa
Mongol memerangi Islam.
Ketiga, penyeragannya
dilatarbelakangi keinginan untuk
membalas dendam. Menurut
sejarawan Barat, Jenghis Khan
pernah mengutus delegasi
dagangnya ke kerajaan
Khawarezm, lalu Shah
Muhammad sebagai penguasa
Khawarezm menilai delegasi
tersebut sebagai mata-mata dan
membunuh mereka semua.
Shah Muhammad khawatir
tentang sifat bar-bar dan
kekejaman orang-orang Mongol
seperti kabar yang ia terima
melalui dutanya sebagaimana
yang telah kami sampaikan.
Sementara menurut sumber
lainnya perselisihan tersebut
terjadi karena orang-orang
Mongol yang masih liar dan
biadab belum pernah mengenal
dunia luar kecuali di era
Jenghis Khan, merampok dan
menyiksa tiga pedagang kain
muslim dari Bukhara (1212 M).
Lalu orang-orang Mongol
tersebut tertarik untuk
mendapatkan harta yang lebih
banyak lagi, mereka pun
mengutus 150 orang dari
kalangan mereka ke wilayah
teritorial muslim. Mengetahui
kedatangan orang-orang
Mongol ini, Gubernur Ghayar
Khan menagkap dan meng-
qishahs mereka semua, namun
satu orang berhasil meloloskan
diri dan mengabarkan peristiwa
di Utrar ini hingga sampailah
kepada Jenghis Khan.
Tahun 1219 M, Jenghis Khan
membawa 200.000 pasukannya
bergerak ke Barat melalui
Transoxiana. Ia berhasil
menduduki kota-kota yang
makmur seperti Bukhara dan
Samar Khand dan membunuh
semua penduduknya sebagai
pembalasan dendam. Kemudian
mereka berangkat ke kota-kota
lainnya hingga korban tewas
mencapai angka 2,5juta jiwa
lebih. Inilah awal mula
penderitaan umat Islam
disebabkan invansi orang-orang
Mongol.
Bersambung insya Allah..
Sumber:
*Jenghis Khan oleh Jhon
Man
*Islam di Asia Tengah oleh
Abdul Karim
*Qishotu at-Tatar min al-
Bidayati ila ‘Ain Jalut oleh
Raghib as-Sirjani
Ditulis oleh Nurfitri Hadi, M.A.
(Staf pengajar Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta)
Artikel www.KisahMuslim.com
Komentar
Posting Komentar